Di arena pertarungan kematian, di mana biasanya pertarungan paling brutal dan dahsyat terjadi, kali ini terlihat beberapa perbedaan yang sangat mencolok. Dimana seharusnya penantang baru, akan memilih salah satu dari lima petarung utama untuk merebut posisi mereka, namun kali ini, lima petarung utama berdiri dengan aura mengancam menghadapi seorang petarung baru, seorang wanita yang terlihat lemah.

Grakkon, peringkat lima. Raksasa setinggi hampir empat meter dengan kulit hijau tua yang dilapisi semacam lapisan tanduk keras seperti batu. Tubuhnya sangat kekar, dengan urat-urat menonjol di sekujur tubuh. Matanya menyala merah seperti bara saat amarahnya memuncak. Ia dikenal dengan kekuatan fisiknya yang brutal, mampu mengangkat kapal perang dan menghancurkan dinding baja berlapis hanya dengan satu pukulan. Sabuk penstabil bio-massa yang dikenakannya memperkuat ototnya saat bertarung, menjadikannya hampir tak tertandingi saat memasuki mode amukan penuh.

Zeythra, peringkat empat. Wanita tinggi ramping dengan kulit logam keperakan yang berkilau. Rambutnya terdiri dari helai kabel biru yang menyala samar, berayun ringan setiap kali ia bergerak. Refleksnya luar biasa cepat, dibantu oleh exo-sistem reaksi saraf yang tertanam dalam tubuhnya. Ia mampu membaca gerakan lawan sepersekian detik sebelum terjadi. Senjatanya adalah tonfa plasma dan sarung tangan yang dapat menyalurkan arus listrik besar. Ia bahkan mampu menahan serangan peluru dan plasma dari jarak dekat tanpa kehilangan keseimbangan.

Largan Vox, peringkat tiga. Makhluk humanoid bersisik baja dengan tubuh lebar dan padat seperti mesin perang. Wajahnya tertutup helm magnetis permanen dengan visor tunggal menyala merah. Kerangka titanium-termodinamis dan lapisan luar bio-logam menjadikan tubuhnya tahan ledakan besar. Ia menggunakan meriam tangan ganda yang tertanam di lengannya, menembakkan proyektil magnetik bertekanan tinggi. Ketika menancapkan kaki ke tanah, ia berubah menjadi stasiun tembak hidup.

Vaelzorr, peringkat dua. Sosok tinggi berkulit obsidian hitam mengilap dengan pola garis-garis merah menyala mengikuti aliran darahnya. Ia mengenakan armor tempur adaptif yang dapat menyesuaikan bentuk dan fungsinya sesuai situasi. Tubuhnya ditenagai reaktor mikro-bintang yang tertanam di dada, memberinya kekuatan yang setara senjata berat bertenaga nuklir. Ia bisa melompat dari gedung ke gedung, menerobos tank, dan menjatuhkan kendaraan udara dengan satu tangan. Armor-nya menyimpan rudal kecil, pelindung energi, dan sensor pelacak multispektrum.

Rhaegor, peringkat satu. Sosok humanoid besar dengan tubuh logam biru gelap, tanpa wajah, permukaan tubuhnya tampak seperti paduan baja yang terus bergerak perlahan. Bahunya lebar, dan setiap langkahnya mengguncang lantai arena. Di dalam dadanya tersegel inti daya anti-materi yang memberinya tenaga luar biasa besar namun stabil. Ia mampu meninju lubang di dinding pesawat luar angkasa, membelokkan senjata energi dengan tangan kosong. Sistem pendingin internalnya membuatnya mampu bertarung tanpa henti selama berhari-hari. Ia tidak menggunakan senjata luar, seluruh tubuh dan sistem internalnya adalah senjata mutlak.

Kini kelima orang tersebut berdiri untuk menghadapi Leena dengan pandangan meremehkan. Jika tidak disebabkan oleh ketertarikan mereka dengan seseorang di balik wanita ini, mereka tidak akan bersedia untuk maju bersama.

Leena tetap berdiri di tengah arena, pandangannya tajam menatap keempat sosok yang mendekat. Di sekelilingnya, tekanan udara seakan menebal, napas banyak penonton tertahan melihat para legenda hidup berkumpul untuk melawannya.

Dari atas podium, pembawa acara kembali berseru dengan suara menggema ke seluruh penjuru arena.

“SAKSIKANLAH HAL YANG SANGAT LUAR BIASA. BELUM PERNAH TERJADI KELIMA PETARUNG UTAMA KITA TURUN KE ARENA UNTUK BERTARUNG BERSAMA. NAMUN BUKAN UNTUK MEMBANTAI TETAPI UNTUK MENGUJI SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR."

Ia diam sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara. Suasana hening sesaat, perhatian ribuan penonton tertuju padanya dengan tatapan heran berusaha memahami maksud pembawa acara.

“KALIAN PASTI SUDAH MENDENGAR BERITA PANAS BEBERAPA HARI TERAKHIR... BAHWA PLANET ORJEON TELAH MUSNAH.”

“Planet Orjeon?” bisik-bisik langsung terdengar dari tribun penonton, riuh namun tertahan. Planet yang dikenal sebagai sarang para makhluk buas interdimensional, lokasi yang kerap menjadi ancaman besar setiap kali kapal melintasinya. Kini, musnah tanpa jejak.

Pembawa acara melanjutkan, memperhatikan reaksi yang mulai memuncak dari para penonton.

“KAMI MENDAPATKAN INFORMASI MENGEJUTKAN. WANITA YANG KINI BERDIRI DI TENGAH ARENA INI... ADALAH ORANG YANG MENGHANCURKAN PLANET TERSEBUT DENGAN KEKUATANNYA SENDIRI. KARENA ITULAH, KELIMA PETARUNG ELIT HARI INI DITURUNKAN, UNTUK MEMBUKTIKAN APAKAH KABAR ITU BENAR.”

“Apa? Wanita itu yang menghancurkan Orjeon?” suara terkejut terdengar dari beberapa sisi tribun.

“Apa maksudnya dengan kekuatannya sendiri? Maksudmu tanpa bantuan senjata planet atau bom khusus?” bisik-bisik semakin ramai, beberapa terdengar ragu, lainnya terdengar takut.

“Tunggu... jika dia memang punya kekuatan untuk menghancurkan planet, bukankah itu artinya... kita semua dalam bahaya sekarang?” suara seorang pria terdengar gemetar dari barisan depan.

“Jangan bodoh. Arena ini dipasangi jaring pengaman transparan yang mampu menahan senjata kaliber berat. Itu sebabnya kita semua ada di sini. Tidak ada yang bisa keluar atau masuk tanpa izin sistem pengaman,” jawab penonton lain dengan nada yakin, meski sorot matanya tetap mengawasi sosok wanita di tengah arena.

Sorakan pun kembali membuncah. Sebagian penonton bersorak dalam euforia, terpukau oleh kemungkinan bahwa makhluk sekuat itu ada di hadapan mereka. Sebagian lainnya mulai merasa cemas, bingung apakah pertarungan ini masih dalam kendali, atau akan berubah menjadi kehancuran yang sesungguhnya.

Leena tetap berdiri tenang, tubuhnya tegak, hanya matanya yang bergerak memandangi satu per satu lawan yang kini mengitari arena. Jari-jarinya menggenggam gagang pedang di pinggang, perlahan namun mantap.

Di balik wajahnya yang tenang, pikirannya bergerak cepat. Ia tahu betul siapa yang berdiri di hadapannya. Bukan hanya Grakkon yang telah terbukti sulit dijatuhkan, tapi kini empat sosok lain, masing-masing lebih berbahaya, lebih kuat, dan lebih terlatih.

"Aku harus mencari celah... bahkan Grakkon saja belum tentu bisa kutumbangkan, dan kini... harus menghadapi mereka yang berdiri di atasnya."

Batin Leena berdenyut dengan ketegangan, namun wajahnya tetap dingin seperti permukaan es. Angin samar berputar mengelilinginya, seolah menyadari bahwa pertarungan sebenarnya baru akan dimulai.

Zeythra, petarung peringkat empat, tanpa menunggu aba-aba, langsung menerjang Leena. Kilatan biru menyala dari sarung tangan khususnya, mengalir seperti arus listrik yang mencari pelampiasan. Tubuhnya melesat seperti kilat, hampir tak terlihat.

Leena yang sudah bersiap segera memutar tubuhnya, berusaha menghindar. Namun baru saja ia bergerak, tendangan mendadak dari arah samping menghantam perutnya. Tubuhnya terpental ke belakang, terguling di tanah sebelum bisa menyeimbangkan diri.

Zeythra berdiri dengan santai, senyum mengejek terlihat di wajahnya yang setengah logam. “Gerakanmu terlalu lambat. Ini kecepatan yang kau banggakan? Aku akan menghancurkanmu”

Leena bangkit, mata terfokus, mencoba menenangkan napasnya. Ia memperkuat tubuhnya dengan aliran qi, lalu kembali menebas ke arah Zeythra. Namun sebelum ujung pedangnya menyentuh, tubuh Zeythra sudah menghilang dari pandangannya.

Tendangan lain menghantam punggungnya. Lalu satu lagi dari arah kiri. Kemudian pukulan dari atas, membuat Leena terhuyung, darah menetes dari sudut bibirnya.

Penonton bersorak histeris, sebagian tertawa melihat Leena dipermainkan.

Sementara itu, keempat petarung lainnya hanya berdiri di tepi arena, memperhatikan dengan ekspresi datar. Mereka tahu wanita itu bukan target utama mereka. Sosok yang mereka tunggu belum muncul, Lynx.

Leena berdiri dan menatap tajam lawannya. Segera Leena meminum pil pemulihan yang diberikan Lynx ketika di kota Zhurong, Heavenly Restoration Pill, yang dapat mengembalikan luka dalam dan menyembuhkan cedera fisik dengan cepat, sekaligus menstabilkan dan menambah aliran qi.

"Menarik, tubuhmu bisa pulih kembali dengan cepat." Zeythra berkata memuji namun nada suaranya penuh sindiran. "Tapi itu hanya memperlambat kematianmu."

Tanpa mempedulikan kata-kata lawannya, Leena melompat mundur mengambil jarak dan dengan cepat memfokuskan kekuatannya ke pedang. Dia berniat mengalahkan lawan-lawannya dalam satu serangan.

"Void Cleaving Slash"

Dengan penuh konsentrasi, dia menyalurkan sebagian besar kekuatan qi spiritual ke pedangnya hingga bersinar terang, lalu dia mengayunkan energi pedang yang memancarkan cahaya cemerlang, menyerang musuh dengan kekuatan yang luar biasa. Energi pedang itu meluncur deras dan menyerang kelima lawannya.

